Sunday, 25 December 2016
random rants
apa yang ada.
when you did something,
or decide something,
just because you have no reason to say no.
apa yang ada.
when you have super duper large hope,
or endless wishes,
just because you never had it.
apa yang ada.
if you just want to have what the others had,
or if you just want to be like the others.
apa yang ada.
Monday, 11 July 2016
Bila lagi?
"Kamu bila lagi?"
Setelah bertahun lamanya terlepas majlis kawan-kawan, akhirnya sempat jugak tahun ni alhamdulillah. Sorang demi sorang akan melangkah ke alam yang baru. I am sooo happy for them.
Kalau ditanya, bila lagi? Wallahua'lam hehe
Memilih tak mudah.
Bila lahir dari keluarga "extended family",
yang berpisah sana-sini,
konflik itu dan ini,
serta pengalaman lampau yang menggugat kepercayaan,
susah nak menjangka bila mahu membuka hati. haha
bukan memilih sahaja tak mudah.
bahkan memulainya saja belum tentu yakin. lol
bukan tak percaya pada sistem,
tapi orangnya.
bukan tak mahu melangkah,
tapi masih dibayangi ketakutan masa lalu.
dan aku tahu,
menjadi pasif bukan satu pilihan.
cuma menanti,
saat diberi kekuatan untuk membuka dan memilih. :)
******
Setelah bertahun lamanya terlepas majlis kawan-kawan, akhirnya sempat jugak tahun ni alhamdulillah. Sorang demi sorang akan melangkah ke alam yang baru. I am sooo happy for them.
Kalau ditanya, bila lagi? Wallahua'lam hehe
Memilih tak mudah.
Bila lahir dari keluarga "extended family",
yang berpisah sana-sini,
konflik itu dan ini,
serta pengalaman lampau yang menggugat kepercayaan,
susah nak menjangka bila mahu membuka hati. haha
bukan memilih sahaja tak mudah.
bahkan memulainya saja belum tentu yakin. lol
bukan tak percaya pada sistem,
tapi orangnya.
bukan tak mahu melangkah,
tapi masih dibayangi ketakutan masa lalu.
dan aku tahu,
menjadi pasif bukan satu pilihan.
cuma menanti,
saat diberi kekuatan untuk membuka dan memilih. :)
"At the end, we will come to know that only Allah kept his promise" <3
Sunday, 6 March 2016
longlai
Kadang-kadang,
aku bingung.
Tarbiyah itu seharusnya mengubah.
tapi makin hari,
aku rasa makin hilang yakin pada diri.
makin lama,
makin tak percaya pada diri.
fikir difikir,
aku rupanya tak bersyukur,
dengan apa yang aku ada.
aku rupanya cepat berputus asa.
belum ke medan,
sudah membayangkan kegagalan.
aku bingung.
Tarbiyah itu seharusnya mengubah.
tapi makin hari,
aku rasa makin hilang yakin pada diri.
makin lama,
makin tak percaya pada diri.
fikir difikir,
aku rupanya tak bersyukur,
dengan apa yang aku ada.
aku rupanya cepat berputus asa.
belum ke medan,
sudah membayangkan kegagalan.
Wednesday, 29 April 2015
Tenggelam
Kadang-kadang
Rasa hilang dengan diri sendiri
Hanyut dalam ketidak pastian
Gelap malap dalam ketakutan masa depan
Kadang-kadang
Masih lagi mempersoalkan tujuan
Semakin dalam engkau menyelam
Semakin jauh engkau dari dataran
Kadang-kadang
rindu menjadi diri yang dulu
yang kata-katanya tak melebihi amalnya
yang diamnya lebih berisi
Kadang-kadang
Apa yang kau perlihatkan di hadapan
Tak pernah mendapat kepuasan pada yang
memandang
Ah
Barangkali engkau yang paranoid
Sebab engkau hidup dengan diri sendiri
Engkau tahu luar dan dalam
Engkau tahu benar dan salah
Tak perlu menegakkan benang yang basah
untuk mempertahankan
amalan yang tak seberapa
untuk mengagungkan
kacamata yang berdebu tiga inci
Jiwa yang terikat pada RabbNya
Pasti merasa tenang
Mengapa harus risau?
Andai engkau berbuat dengan sepatutnya.
Mengapa perlu lari?
Andai yang dicari itu dekat.
- aku yang karam dalam kapal dunia.
Friday, 5 December 2014
Lelaki itu.
ada orang,
yang dirinya sukar sekali untuk dibaca.
lalu dia dikenali melalui tulisannya.
yang selalunya,
bisa memuntahkan segala isi hati.
tetapi lelaki itu,
sungguhpun tak pandai membaca dan menulis.
akhlaknya sudah cukup membuat semua mempercayainya.
kata-katanya, taujihatnya,
bisa membuatkan yang mendengar jatuh cinta padanya.
dan lelaki itu
bisa buat semua yang didampinginya
merasakan merekalah yang paling dicinta
dan lelaki itulah
murabbi agung
tanggannya lah yang melahirkan seorang lelaki
yang amalannya tak dapat ditandingi walau seribu ummat pun
tangan itu lah juga
yang bisa menukar seorang yang tegar menentangnya
jadi seorang yang tak bisa terima kewafatannya.
luka dan darah
tangis dan lelah
semuanya demi ummat tercinta
model terbaik
yang melalui patah dan luka
untuk ummatnya belajar
jadi hamba yang tunduk
penuh cinta
takut dan harap.
yang dirinya sukar sekali untuk dibaca.
lalu dia dikenali melalui tulisannya.
yang selalunya,
bisa memuntahkan segala isi hati.
tetapi lelaki itu,
sungguhpun tak pandai membaca dan menulis.
akhlaknya sudah cukup membuat semua mempercayainya.
kata-katanya, taujihatnya,
bisa membuatkan yang mendengar jatuh cinta padanya.
dan lelaki itu
bisa buat semua yang didampinginya
merasakan merekalah yang paling dicinta
dan lelaki itulah
murabbi agung
tanggannya lah yang melahirkan seorang lelaki
yang amalannya tak dapat ditandingi walau seribu ummat pun
tangan itu lah juga
yang bisa menukar seorang yang tegar menentangnya
jadi seorang yang tak bisa terima kewafatannya.
luka dan darah
tangis dan lelah
semuanya demi ummat tercinta
model terbaik
yang melalui patah dan luka
untuk ummatnya belajar
jadi hamba yang tunduk
penuh cinta
takut dan harap.
Saturday, 22 November 2014
Dust
"Cukuplah...
kusimpan semua ceritaku
yang dulu
Tentangku...
tentang apapun
yang membuatku
tiada berarti
Di Persimpangan
Aku berdiri
membisu
harus kuputuskan
kemanakah ku melangkah...
Jangan lagi
usikku
meski aku tak tau
kemana lagi aku berlari
kejar harapan
yang sempat mengelam
biarkanlah
ku hidup dengan nafas yang baru
nafas yang menyimpan kedamaian
di persimpangan
aku berdiri"
Terngiang-ngiang lirik lagu yang diulang berkali-kali oleh roomate tersayang.
bertahun lamanya. membiarkan kenangan berlalu pergi.
lembaran demi lembaran di buka.
namun kenangan tak pernah pergi.
"Tak ada yang salah dengan menggenggam harapan. Kau hanya perlu tahu kapan harus berhenti dan mulai menerima kenyataan."
dan hakikatnya tak ada yang benar-benar pergi.
kerna kenangan adalah rumah tak berpintu,
tempat di mana semua orang ingin kembali pulang.
ah,
terlalu emosi barangkali.
memandang hidup dengan kaca mata yang masih berdebu.
jangan terlalu berat melepaskan, yang memang milikmu akan selalu pulang.
#reconstructing
Tuesday, 28 January 2014
Nafas Cinta
Alhamdulillah.
Allah bagi peluang.
Allah bagi peluang.
Untuk terus hidup dalam nafas dakwah dan tarbiyah.
Nikmat yang takkan pernah ingin aku sia-siakan.
Dalam jalan ini,
aku banyak belajar.
Belajar untuk memahami,
Belajar untuk menerima,
Belajar untuk memberi.
Akulah yang terlebih belajar,
untuk jadi lebih peka,
untuk jadi lebih sensitif,
apa lagi untuk selalu berlapang dada.
Meski kadang-kadang,
Kau rasa macam..
Takda siapa hargai kau
Takda siapa hargai kerja kau
Takda siapa sayang kau (eheh :p)
Ah!
Persetankan rasa-rasa itu
Hiraukan bisikan-bisikan itu
mengapa menanti dari insan yg bergelar manusia
Sedang engkau tahu fitrah mereka,
sedang engkau pasti kekurangan mereka.
terlalu banyak berharap dari manusia
terlalu banyak harapan pada manusia
terlalu banyak impian pada manusia
Fafiru ilallah.
Wa sari’u ila maghfiratin mirabbikum.
Tuhan.
hela nafas ini.
biarlah dariMu
untukMu
bersamaMu.
Inilah.
Nafas cintaku.

"Andai bisa ku mengulang
waktu hilang dan terbuang
andai bisa perbaiki segala yang terjadi
tapi waktu tak berhenti
tapi detik tak kembali
harap ampunkan hambaMu ini"
Sunday, 24 November 2013
Jasad Kita
Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
Wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”
jasad-jasad yang berhimpun dalam gerak kerja,
jasad-jasad yang punya cita-cita tinggi,
Namun,
jasad-jasad ini sukar sekali bertemu,
untuk mencari titik persamaan,
untuk menerima apa adanya pada kita.
saban hari jasad-jasad ini bertemu,
tanpa rasa,
tanpa perkataan.
semua saling menyimpan rasa.
sedang mulut petah berbicara tentang ukhuwah.
Sayang seribu kali sayang,
jasad-jasad ini sukar sekali bertemu,
untuk mencari titik persamaan,
untuk menerima apa adanya pada kita.
daie juga manusia tahu?
punya rasa manusiawi.
andai bisa menjaga hati 'manusia biasa',
mengapa tidak sesama keluarga kita?
Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri berdiri malam-malam,
bersujud dalam-dalam bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia.
Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci, sebening prasangka, selembut nurani,
sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji. -DDU-
Saturday, 22 June 2013
Counting
Kisah sebegitu lagi.
Kisah yang berbekas di hati.
Tahun ini sahaja.
Kisah seorang akh dan ukh.
Pengakhiran yang dicanang-canang.
Pengakhiran yang didamba pencinta syahid.
Betapa Allah menerima syahid keduanya.
Dengan cara tersendiri.
Saat iman meninggi.
Saat kesungguhan memancar.
Perfect timing.
Subhanallah.
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang redha dan diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam glongan hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu." 89:27-30
Cemburu
Walaupun tak pernah kenal,
Kehilangannya terasa di bumi UKE.
Sungguh, aku cemburu dik.
Duduk.
Termenung sejenak.
Berfikir dan terus berfikir.
Apakah pengakhiranku kelak?
Siapa aku pada pandangan dunia andai saat itu tiba?
Duduk.
Bermuhasabah.
Apakah sumbanganku pada dunia?
Meski manusia tidak mengenal,
apakah juga tak dikenali di langit sana?
Allahu Allah.
Basah.
M.A.T.I
Itulah jawapannya.
Itulah rahsianya.
Drive seorang
hamba untuk jadi ikhlas dan ihsan.
Drive seorang
hamba yang rindukan syahid.
Yang rindukan syurga Adn.
Yang rindukan pertemuan denganNya.
23 Jun 2013.
Berbaki lima hari lagi untuk jadi tetamu Allah.
Berharap ruang amal terus dibuka untuk memperbaiki diri.
Berharap hati ini, jasad ini, benar-benar bersedia.
Berharap sosok tubuh ini, rela ditarbiyah bumi Mekah.
Allah,
Mudahkanlah perjalanan kami.
Berkatilah harta yang kami belanjakan.
Terimalah kami sebagai tetamu di rumahMu.
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. dan di antara mereka, ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan merela sedikitpun tidak mengubah janjinya." 33:23
Thursday, 25 April 2013
lost.
Hak hati.
Sukar untuk diterjemah.
Sukar untuk dibicara.
Kadang-kadang kita merasa,
Hati ini kosong.
Kosong tanpa rasa.
Tapi entah rasa apa yang dicari.
Kerna hati yang satu ini,
Seribu rasa bisa ditafsir.
Selautan tangis bisa tumpah.
Kerna hati yang satu ini,
Jadi pantulan iman kita.
Jadi pantulan amal kita.
Jadi pantulan akhlak kita.
Aku berusaha.
Engkau juga berusaha.
Tapi andai ukhuwah kita sakit,
Hati inilah yang tenat.
Iman inilah yang melemah.
Iman kita,
Bisa jadi punca sakitnya hati ini.
Dzon kita,
bisa jadi punca tak enaknya rasa ini.
Keraguan kita,
Bisa jadi penghalang manisnya ukhuwah ini.
Musaku,
Ukhuwah kita memang tengah sakit kan?
Indenial.
"Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik
ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Malampaui batas cinta dan benci.
Kerana hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Keana seringkali
kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang
membuat perasaan-perasaan terkibas. Tetapi yakinlah, di jalan cinta para
pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradai pentas
kepahlawanan para actor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah syurga. Syrga
yang telah dijanjikanNya."
Di adalah bagian dari diriku,
Dan aku adalah bagian dari dirinya.
-Rasulullah, tentang Julaibib-
Tuesday, 19 March 2013
R.A.S.A
Lemas.
Hanyut dalam perasaan sendiri.
Hebatnya Dia.
Dengan satu rasa,
Mampu membuat hati tertawa.
Dengan satu rasa,
Mampu membuat hati menangis.
Rasa.
Rasa yang Dia anugerahkan.
Rasa yang bisa mengubah segalanya.
Rasa yang tak asing lagi.
Rasa sayang.
Entah mengapa.
Aku diuji lagi dengan rasa ini.
Mungkin kerna aku terlalu yakin,
Aku telah berjaya melepasi rasa ini dahulu.
Maka aku akan terus berjaya melewatinya.
Mungkin kerna aku terlalu percaya,
Aku kebal untuk menolak rasa ini.
Maka aku takkan jatuh kerananya lagi.
Sangkaan.
Keyakinan.
Keduanya tak berpaksikan
kuasa takdir.
Mungkin.
Mungkin saja rasa ini lain dari sebelumnya.
Kerna ia dibaluti ‘ukhuwah fillah’
Tapi yang berbalut itulah lebih sakit.
Kerna ia terselindung.
Kerna ia dilindungi.
Sampai satu saat.
Aku tertipu dengan ‘fillah’ yang aku ucapkan.
Hati tak tunduk pada apa yang diluahkan.
Allahuu..
Ujian berat kau timpakan.
Kusangka aku takkan lemas dalam rasa ini lagi.
Tapi hakikatnya,
Aku jatuh lagi.
Aku rebah lagi.
Saat yang lain bergerak laju
Aku tersekat di sini.
Saat kau tarik satu persatu mutarobbiku
Aku terpaku.
Aku tersentak.
Terlalu lama ber’honeymoon’.
Kamu, kamu dan kamu.
Aseef,
Atas hak yang tak tertunai.
Aseef,
Atas kelemahan diri membimbing.
Aseef,
Kerna gagal menjadi qudwah hasanah.
Awak,
Bukan aku tak sayang.
Bukan aku tak peduli.
Tapi dakwah dan tarbiah ini,
Perlukan kita.
Perlukan pengorbanan kita.
Pengorbanan hati.
Pengorbanan jiwa.
Pengorbanan perasaan.
Awak,
Aku akui.
Saat ukhuwah kita sakit,
Iman kitalah yang melemah.
Tapi yang lebih sering lagi,
Hati ini lah.
Jiwa inilah.
Detik waktu terus berjalan.
Gerabak terus berlalu pergi.
Benar,
Ia sakit.
Tapi sakit kerna Dia,
Bukankah lebih mulia?
Sekuat mana pun rasa ini,
Dialah yang mempertemukan.
Dialah yang memberi rasa.
Dialah yang mengtakdirkan.
Ayuh, bawa cinta ini untuk Dia.
Ayuh, jadi jundi-jundi di barisan pertama.
Ayuh, lari dari fitnah agama dan dunia.
Ayuh, jadi dagang dunia.
Ayuh,
Kita sahut seruan kehidupan.
“Wahai
orang-orang yang beriman, sahut dan sambutlah seruan Allah dan RasulNya apabila
Ia menyeru kamu kepada sesuatu yang menjadikan kamu hidup sempurna; dan
ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah berkuasa mengubah atau menyekat di antara
seseorang itu dengan hatinya, dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu dihimpunkan.”
8:24
Wednesday, 23 January 2013
Touch n Go
Kulsem (Kuliah sepuluh minit), VicLodge.
“Bila nama Nabi Muhammad disebut, apa eh hati kita rasa?”
Dush.
Hati dirasa bagai dirobek-robek.
Rasa apa ya?
Cintakah?
Rindukah?
Pause.
*********************
Dalam perjalanan pulang, si dia berkata,
“Jaga Ila (bukan nama sebenar) elok-elok taw.”
Sekali lagi.
Rasa seperti dihempap.
Hatiku bagai disiat-siat.
Wajah adik-adikku datang satu persatu.
Allahu Rabb.
Apa sudah aku perbuat?
Ke manakah sudah kubawa mereka?
Dakwah ini bukan dakwah ‘touch n go’.
Sudah disentuh, mana mungkin bisa dilepaskan begitu sahaja.
Basah.
Naqibah, bukan sekadar nama.
Murabbi, bukan sekadar gelaran.
Ia datang bersama tanggungjawab.
Untuk membina dan terus membina.
Si dia : “Saya tahu, dalam fikiran awak sekarang mesti ada
perkataan tak mampu kan?”
Awak....
Tak mampu nak membalas pertanyaan itu.
Bukan aku sedang merasai ketidakmampuan itu,
Kerna aku ada Dia untuk selalu mencukupkan.
tapi yang aku takut,
Aku lalai terhadap mereka yang telah disentuh.
yang aku takut,
Aku tinggalkan mereka saat diperlukan.
yang aku takut,
bukan dakwah Rasulullah yang aku perjuangkan.
yang aku takut,
aku berpenat lelah atas sesuatu yang sia-sia.
Pause.
Masa silih berganti.
Sudah membesarkah mereka?
Sunday, 13 January 2013
Perjalanan hati
Tak tahu di mana harus bermula.
Pencarian itu masih aku teruskan.
Lubang-lubang itu masih aku gali.
Allah.
Engkau sedang membersihkan jiwaku.
Engkau sedang menyucikan hatiku.
Pandang luar.
Gelap.
Allah, aku berlindung kepadaMu daripada kegelapan apabila ia datang.
Pandang sekali lagi.
Aku nampak sinar.
CahayaMu.
PetunjukMu.
Allah.
Benarkan aku melangkah laju mengejarnya.
Ringankan bebanku menujunya.
Bawalah aku.
Pilihlah aku.
Allah.
Andai hati ini tersasar,
maafkan aku.
Ampunkan aku.
Allah.
Engkau tahu titik kelemahanku.
Pelihara hatiku,
agar tiada cinta yang melebihi diriMu.
Ruang itu masih aku cari.
Peluang itu masih aku damba.
Benarkan aku,
jadi hamba yang sujud kepadaMu kerana cinta.
Allah,
Aku mahu mencintaiMu dengan sebenar-benar cinta.
Izinkan aku?
Pencarian itu masih aku teruskan.
Lubang-lubang itu masih aku gali.
Allah.
Engkau sedang membersihkan jiwaku.
Engkau sedang menyucikan hatiku.
Pandang luar.
Gelap.
Allah, aku berlindung kepadaMu daripada kegelapan apabila ia datang.
Pandang sekali lagi.
Aku nampak sinar.
CahayaMu.
PetunjukMu.
Allah.
Benarkan aku melangkah laju mengejarnya.
Ringankan bebanku menujunya.
Bawalah aku.
Pilihlah aku.
Allah.
Andai hati ini tersasar,
maafkan aku.
Ampunkan aku.
Allah.
Engkau tahu titik kelemahanku.
Pelihara hatiku,
agar tiada cinta yang melebihi diriMu.
Ruang itu masih aku cari.
Peluang itu masih aku damba.
Benarkan aku,
jadi hamba yang sujud kepadaMu kerana cinta.
Allah,
Aku mahu mencintaiMu dengan sebenar-benar cinta.
Izinkan aku?
Saturday, 15 December 2012
Tekad Hati
Pabila hati sudah bertekad.
Tak ada apa lagi yang bisa mengubah.
Raikanlah ketenangan itu.
Saat tak ada yang bisa menggoyahkan sang iman.
Raikanlah kebahagiaan itu.
Saat kesibukan menutup ruang-ruang jahiliyah.
Allah.
Aku tak mampu untuk menjangka ketetapanMu.
Aku tak mampu untuk melakar masa hadapanku.
Allah.
Aku tak mampu untuk bertahan kalau bukan Engkau yang
menguatkan.
Aku tak mampu untuk melangkah kalau bukan Engkau yang
gerakkan.
Hati,
Usah kau kenang hari-hari semalam itu,
Andai tiada iman yang bertambah.
Hati,
Usah kau lewati saat-saat hari itu,
Andai ia bagaikan mawar berduri buat dirimu.
Sedarilah,
keringnya iman,
calarnya hati,
takkan bawa kau ke mana-mana.
malah ia lah, yang memberatkan gerakanmu.
Bersabarlah.
sabar adalah sebuah kebulatan tekad,
bukan sebuah kepasrahan.
Pabila hati sudah bertekad.
Raikanlah.
Wednesday, 21 November 2012
Workload
Sesak.
Melihatkan realiti umat,
dada terasa makin sempit.
nafas terasa makin pendek.
nafas terasa makin pendek.
Sinar cahaya tampaknya makin jauh.
lorong sepi semakin sunyi.
sungguh, ini bukan omong kosong.
ketahuilah.
sedarilah.
kerja KITA bukan sedikit.
lorong sepi semakin sunyi.
sungguh, ini bukan omong kosong.
ketahuilah.
sedarilah.
kerja KITA bukan sedikit.
Air mata tumpah jua.
Menangis melihat saudara di Gaza.
Menangis melihat saudara di tanah air.
Malaysia.
Lahirnya kita bukan kerna bangsa.
Hidupnya kita bukan kerna bahasa.
Saat mereka bertarung nyawa,
Kita bertekak kerana perut.
Saat mereka menangisi yang syahid,
Kita bergembira dengan ‘keamanan’ negara.
Keajaiban tak akan berlaku.
Andai kita tak berusaha mengubahnya.
Perubahan tak akan berlaku.
Andai kita terus hanyut dengan dunia sendiri.
Andai kita terus hanyut dengan dunia sendiri.
Kemenangan tetap akan tiba.
Cepat atau lambat.
dengan adanya kita atau tidak.
dengan adanya kita atau tidak.
Kita cuma perlu memilih.
mahu turut serta, atau tidak.
mahu turut serta, atau tidak.
mahu berjuang, atau sekadar berpeluk tubuh.
Bukan mahu kecewa dengan realiti umat.
Bukan mahu menyalahkan sesiapa.
Bukan mahu menyalahkan sesiapa.
Tapi ia adalah muhasabah diri.
untuk kita ketahui dan sedari,
untuk kita ketahui dan sedari,
KERJA KITA BUKAN SEDIKIT.
jalan dakwah.
ia bukan satu pilihan.
tapi ia adalah satu tanggungjawab.
selagi masih ada kesedihan buat mereka yang belum bangun dari khayalan,
kerja kita masih belum selesai. long way to go.
Moga Allah redha.
Tuesday, 6 November 2012
Kuat
Setiap kali bermusafir,
pasti air mata mengalir deras.
bermuhasabah sendirian.
memikirkan hari-hari lampau.
meneliti hari-hari hadapan.
langit yang dijunjung,
tanah yang dipijak,
masih lagi langit dan tanah yang sama.
tetapi tanggungjawab yang digalas,
bukan lagi tanggungan yang sama.
menyesalkah?
sama sekali tidak.
cinta yang abadi,
bukan semudah itu untuk dimiliki.
syurga yang kekal,
bukan semurah itu untuk dibeli.
Allahu Rabbi.
Engkau sahaja Penguatku.
Engkau sahaja Pembimbingku.
Engkau sahaja Penunjuk arahku.
Allahu ghayatunna.
pasti air mata mengalir deras.
bermuhasabah sendirian.
memikirkan hari-hari lampau.
meneliti hari-hari hadapan.
langit yang dijunjung,
tanah yang dipijak,
masih lagi langit dan tanah yang sama.
tetapi tanggungjawab yang digalas,
bukan lagi tanggungan yang sama.
menyesalkah?
sama sekali tidak.
cinta yang abadi,
bukan semudah itu untuk dimiliki.
syurga yang kekal,
bukan semurah itu untuk dibeli.
Allahu Rabbi.
Engkau sahaja Penguatku.
Engkau sahaja Pembimbingku.
Engkau sahaja Penunjuk arahku.
Allahu ghayatunna.
Monday, 29 October 2012
Raudhah kita
mereka.
jiwa-jiwa yang selalu ada.
hati-hati yang selalu sedia.
tika susah dan senang.
tika keserabutan melanda.
tika kemarahan membara.
senyum itu.
ketenangan wajah itu.
bisa meruntuhkan tembok ego.
bisa melembutkan kerasnya hati.
bisa meredakan kemarakan amarah.
Allah.
sayang buat mereka,
biarlah bukan kerana harta.
bukan kerana rupa.
bukan kerana apa-apa melainkan Engkau.
only because of YOU.
always YOU.
and YOU.
moga Raudhah jadi milik kita, kelak. ♥♥♥
jiwa-jiwa yang selalu ada.
hati-hati yang selalu sedia.
tika susah dan senang.
tika keserabutan melanda.
tika kemarahan membara.
senyum itu.
ketenangan wajah itu.
bisa meruntuhkan tembok ego.
bisa melembutkan kerasnya hati.
bisa meredakan kemarakan amarah.
Allah.
sayang buat mereka,
biarlah bukan kerana harta.
bukan kerana rupa.
bukan kerana apa-apa melainkan Engkau.
only because of YOU.
always YOU.
and YOU.
moga Raudhah jadi milik kita, kelak. ♥♥♥
Saturday, 20 October 2012
#bahasahati
ajarin jiwa, bahasa Arrahim.
sucikanlah.
bersihkanlah.
moga derapan langkah itu makin dekat.
moga pandangan itu makin jelas.
agar sang hati, tak lari lagi.
moga sakit melepaskan, jadi kemuncak bahagia di sana.
moga keyakinan, tetap utuh di dada.
agar sang hati, tak kering lagi.
#it might not be everything, but it is something to ponder upon.
sucikanlah.
bersihkanlah.
moga derapan langkah itu makin dekat.
moga pandangan itu makin jelas.
agar sang hati, tak lari lagi.
moga sakit melepaskan, jadi kemuncak bahagia di sana.
moga keyakinan, tetap utuh di dada.
agar sang hati, tak kering lagi.
#it might not be everything, but it is something to ponder upon.
Tuesday, 4 September 2012
Tersirat
sesak. entah apa lagi yang ingin dirisaukan.
entah apa lagi yang mahu dirumitkan.
masa berlalu pergi.
hari-hari derita harus ditinggal mati.
biar ia terkubur di pinggiran jalan.
beertikah lagi tangisan untuk itu?
usah dinanti sebuah penghargaan dari seseorang yang bergelar manusia.
andai bunga-bunga yang mekar itu diracuni dengan tangan-tangan mereka.
usah dinanti kata maaf meluncur keluar dari mulut seseorang yang bergelar manusia.
andai ego setinggi Everest terus membakar dalam lahar jiwa-jiwa mereka.
sebak. entah apa lagi yang ingin didedahkan.
entah apa lagi yang mahu dirahsiakan.
berjuanglah. selagi termampu.
entah apa lagi yang mahu dirumitkan.
masa berlalu pergi.
hari-hari derita harus ditinggal mati.
biar ia terkubur di pinggiran jalan.
beertikah lagi tangisan untuk itu?
usah dinanti sebuah penghargaan dari seseorang yang bergelar manusia.
andai bunga-bunga yang mekar itu diracuni dengan tangan-tangan mereka.
usah dinanti kata maaf meluncur keluar dari mulut seseorang yang bergelar manusia.
andai ego setinggi Everest terus membakar dalam lahar jiwa-jiwa mereka.
sebak. entah apa lagi yang ingin didedahkan.
entah apa lagi yang mahu dirahsiakan.
berjuanglah. selagi termampu.
Sunday, 24 June 2012
Monolog hati yang kotor
Hidup ini. Kalau hanya dijalani untuk menurut kehendak
manusia, memenuhi keperluan manusia, mencari penghargaan manusia, mencari
kesenangan dan kemewahan, maka sekadar itulah. Mungkin pada hari-hari
pertamanya, kita rasa gembira, teruja, tak sabar-sabar untuk mengejar semua
yang kita inginkan. Tapi lama kelamaan, kita akan rasa putus asa, kecewa, makan
hati tatkala kita semakin lelah untuk terus mengejar impian yang takkan pernah
habis. Kita penat melayan permintaan manusia yang takkan pernah puas. Hari demi hari, kita semakin lelah dan penat. Kenapa? Sebab semua yang kita lakukan bukan sebab Allah, tapi sebab
manusia, sebab dunia.
Hanya kerana ingin hidup senang di dunia, kita abaikan
tanggungjawab seorang hamba. Hanya kerana ingin menjaga hati manusia, kita
lukai Sang Pencipta. Hanya kerana ingin mendapat tempat di sisi seorang
manusia, kita sanggup buat apa saja, hatta melanggar ketetapan Dia sekalipun. Hanya
untuk menjaga perhubungan yang terjalin, kita sanggup turut sama terjebak dalam
kancah maksiat, jauh sekali untuk menghalang. Semuanya sebab, nak jaga hati.
Ada apa pada hati manusia? Bukankah Dia yang memegang hati manusia? Mengapa
perlu risau dan bimbang untuk menegur?
Kadang-kadang (mungkin selalunya), kita selalu nampak kesalahan
orang lain. Apa yang dia buat semua nampak salah. Kita keji dia, kita hina dia,
tapi siapa kita untuk menghukum? Sudah perfect sangatkah diri untuk menghukum
orang lain berdosa?? Kerana hati yang
kotor, niat yang tak sempurna, kita tak nampak yang buruk pada diri sendiri. Wahai
diri, berpadalah ketika bercakap, berhemahlah pabila menegur, kerana mulut
badan binasa.
Mana mungkin untuk menjadi manusia sehebat Rasulullah SAW
dan sahabat, kita hanya perlu duduk bersenang lenang. Hidup dalam dunia sendiri, kemahuan sendiri. Kalau setakat post status di facebook, twitter, bagi tazkirah sikit-sikit sudah memadai untuk masuk syurga, mimpilah!
Di mana tujuan sebenar hidupmu, wahai diri yang mengakui
hamba Allah?? Sudah lupakah kamu pada janji-janji yang pernah diucapkan? Sudah
lupakah pada nikmat Dia yang selalu menyelamatkan kamu dari kekalahan dan
kejatuhan? Sudah lupakah?
***********************************************
Terlalu banyak yang perlu diperbaiki, terlalu banyak khilaf.
Terlalu banyak mencari salah orang lain, sedang diri sendiri semakin layu. Seorang
daie tugasnya adalah mengajak manusia kembali kepada Allah, bukan menjadi fitnah
kepada agama hanya kerana perkataan yang dikeluarkan mengguris hati manusia.
Mencari-cari semangat yang hilang. Mencari-cari kekuatan
unntuk terus mengejar redha Dia, bukan redha manusia. Mengejar cinta Dia, bukan
cinta manusia.
Move on. Islam tak memerlukanmu, tapi kamu yang memerlukan
Islam.
Allah, dunia ciptaanMu ini benar-benar mencabar keimanan…
Allah, permintaan dulu,kini dan selamanya. Letakkan dunia di tangan kami, bukan di hati untuk dicintai.
Subscribe to:
Posts (Atom)











.jpg)


